Selasa, 06 November 2012
Browse » Home »
» Sofyan Djalil: Kerugian Merpati adalah Risiko Bisnis
Sofyan Djalil: Kerugian Merpati adalah Risiko Bisnis
Mantan Menteri BUMN Sofyan Djalil menilai, wanprestasi yang dilakukan rekanan PT Merpati Airlines yakni Thirdtone Aircraft Leasing Group (TALG) adalah risiko bisnis. Dan di dalam bisnis, tak mungkin seluruh risiko bisa dicegah.
Demikian disampaikan Sofyan Djalil saat dihadirkan sebagai saksi ahli pada persidangan kasus dugaan korupsi Merpati Airlines dengan terdakwa mantan Dirut Merpati Hotasi Nababan dan Mantan General Manajer Tony Sudjiarto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (5/11/2012).
“Kalau keputusan korporasi dilakukan secara good corporate governance dan terjadi risiko bisnis, itu biasa. Dan kalau Hotasi dihukum akan terjadi preseden. Akhirnya BUMN tidak berani mengambil keputusan. jadi takut nanti dipersoalkan. Dan dalam keputusan yang dibuat Hotasi telah memenuhi persyaratan. Ya Kalau mau bisnis yang aman-aman saja, ya tidak ada bisnis,” jelas Sofyan Djalil dihadapan hakim Hendra Yosfin.
Menurut Sofyan Djalil, Hotasi juga tidak tinggal diam saja ketika tahu TALG sebagai rekan bisnis telah ingkar janji karena tak bisa memenuhi pesanan pesawat. Hotasi saat itu sudah melakukan mitigasi risiko untuk menyelamatkan uang 1 juta dolar AS yang sudah dibayarkan sebagai security deposite ke TALG. Buktinya, direksi Merpati memperkarakan TALG selaku rekan bisnis Merpati ke pengadilan di AS.
Sofyan Djalil pun yakin Hotasi tidak bersalah. Alasannya, Hotasi dan jajaran direksi sudah mengejar uangnya dengan cara membawa ke pengadilan dan dimenangkan oleh Pengadilan Amerika. “Mitigasi risiko sudah dilakukan. Itu baru potensi kerugian negara karena uang masih bisa diupayakan. Kalau saya Menteri BUMN-nya, saya suruh kejar walau itu mahal sekali,” lanjut Sofyan Djalil.
Sofyan Djalil juga tidak melihat ada niat jahat Hotasi dalam kasus Merpati. Kalaupun security deposit yang dibayarkan ternyata dipersoalkan karena TALG ingkar janji, Sofyan menilai direksi MNA di bawah Hotasi sudah melakukan upaya terbaik.
Menurut pria asal Aceh ini, kasus Merpati itu sengaja dipaksakan dibawa ke ranah hukum. Padahal ia tak melihat Hotasi berniat memerkaya diri atau pihak lain dengan memerintahkan pembayaran security deposit 1 juta dolar AS untuk penyewaan dua unit Boeing yang akhirnya tak dikirim.
Hotasi yang diberi kesempatan mengajukan pertanyaan sempat berkaca-kaca. “Saya terharu. Ada banyak teman-teman BUMN yang bisa bernasib seperti saya,” kata Hotasi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar